Rabu, 30 Desember 2009

Jangan titipkan aku, Bunda !

Seluruh anggota rumah, termasuk bocah-bocah yang tengah menginap di tempat kakek neneknya karena liburan, telah bangun. Hari masih pagi, baru sekitar jam 6.30 WIB. Dari luar, sepasang suami istri datang bersama anak perempuannya yang baru berusia dua tahunan, rapih. Ada tas punggung anak-anak yang penuh berisi, di genggaman sang ayah.

Setelah perbincangan yang tidak terlalu panjang dengan mertua, Nia, sang menantu bersiap pergi dengan suaminya.

"Rani, di sini dulu ya, sama kakek nenek. Kumpul dengan yang lain. Bunda mau kerja dulu, keluar kota. Nanti Bunda jemput sama ayah, ya...!?" sambil sedikit membungkuk, Nia berkata kepada Rani, putrinya.

"Iya," jawabnya, santai, tanpa ekspresi yang jelas. Entah mengerti atau tidak apa yang dimaksudkan orang tuanya.

Nenek kakek senyum-senyum saja. Senang-senang saja ada cucu di situ, meski masih ada beberapa cucu lainnya yang juga menginap di situ.

Hingga...

"Mau kemana, Tante ?"

Spontan. Tak ada yang menyadari kedatangannya. Hanif, bocah kelas 2 SD itu, sepupu Rani, telah hadir di antara mereka.

"Mau pergi, kerja, Hanif," masih agak terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, Nia mencoba menjawab.

"Rani ditinggal, Tante ? Dititipin ?" bak seorang detektif, Hanif terus menyelidik.

Belum lagi terjawab,

"Anak kok dititip-titipin, ditinggal-tinggalin ! Enggak enak, tau !" Entah siapa yang mengajarkannya..

"Aku udah ngerasainnya, Tante! Enggak enak !" Nyerocos saja... ketus !! Tanpa rem.

Nia tertampar, tertusuk! Dalam! Anak sekecil itu.... ???

"Memangnya kenapa, Hanif ?" dikumpulkannya energinya yang runtuh, untuk mencoba berhati-hati bertanya..

"Enggak enak, Tante, sering ditinggal-tinggal sama Ibu, keluar kota,keluar negeri! dititipin! Emangnya apaan ?!" sinis.

Tumpah sudah uneg-uneg bocah kecil itu, yang bahkan mandi pun belum. Apa yang dirasakannya, tak ingin ia lihat dirasakan juga oleh saudaranya lagi. Ada kepedihan di sana.

Dirinya yang cukup sering ditinggal bertugas oleh sang ibu (seorang pejabat di sebuah instansi pemerintah), keluar kota, keluar negeri, sungguh tak membuatnya bahagia. Bagian ini tak ingin ia alami, jika ia bisa memilih.

Sedari kecil, bahkan batita,Hanif seringkali dititipkan di rumah nenek kakeknya. Atau ditinggalkan di rumah, hanya dengan pembantu dan pengasuhnya. Kakaknya malah sudah di sekolahkan sejak usianya belum lagi genap dua tahun, meski hanya di PAUD (Pendidikan anak usia dini).Mungkin itu adalah salah satu cara aman untuk meninggalkan anak ketika si ibu bekerja.

Saking seringnya ditinggal, suatu ketika Hanif pernah berujar ,"Ibu libur, ya ? Asyiiik...! Aku senang kalau Ibu libur, jadi bisa sama aku. Bu, tau gak, aku tuh suka berdo'a, supaya ibu bisa di rumah terus, biar nemanin aku...!"

Ah, Hanif.... !!

Ibu mana yang tak menginginkan kebahagiaan bagi anaknya ? Ibu mana yang ingin melihat anaknya bak gembel, tak terurus, baju compang camping, hanya lantaran kesibukannya bekerja, padahal materi tak sedikit yang dipunya.

Tapi sungguh... itulah yang dirasakan Hanif! Kebersamaan, terutama dengan ibu, sesuatu yang begitu mahal dan berharga baginya. Hanif memang membutuhkan materi, tapi agaknya, bukanlah yang utama...

Ya, terbayang dalam ingatan Nia, betapa hidupnya mata Rani,(dan pasti juga Hanif), ketika dipeluk olehnya. Ada kebahagiaan. Ada kerinduan !! Kehangatan ! Itulah !

Ah, Rani...

Tapi kadang posisi itu sulit ! Tugas, kerja, materi,(juga ego ??),dan keluarga... Yang mana ? Bagaimana ? Wonder woman ? Duh.... !!!

Nia terpaku. Hilang kata-kata. Lidahnya kelu.

Dan,...telaga kecil mulai terbentuk di kelopak matanya...

***********

"Bunda, aku mau bunda nemenin aku terus, main, jalan-jalan.... Pokoknya bareng !!"

Terus terngiang....!!!



Bekasi, 30 Desember 2009, Rabu pagi

Leni Sudiarti
http://iniblognyaleni.blogspot.com