Sungguh, adalah suatu perjuangan yg tidak ringan, menerima sesuatu yg tidak kusukai. Sulit rasanya. Sungguh, sebagai manusia, aku merasa kecewa.
Ya,apakah aku salah, ketika aku mengharapkan kepekaan dan kepedulian itu? rasanya tidak! Salahkah aku,menginginkan kemurahan hati untuk berbagi ? berbagi, bukan hanya kepadaku, tapi juga untuk yang lain? Tidak, aku tidak ingin egois, hanya memikirkan diriku, tp jg yg lain!
Kelirukah aku, saat aku mengharapkan kerelaan untuk lebih menunjukkan kepekaan, membantu mengatasi masalah yg sedang terbentang..?
Tidak perlu selurux bisa teratasi, tp setidakx, membantulah..
Egoiskah aku ketika aku merasa terluka ketika dengan seenakx ada penghamburan itu? penghamburan terhadap sesuatu yg sebenarx bs didapatkan dgn nilai di bawah itu? Karena dengan meminimalisirx, bs dipergunakan utk sdkt membantu masalah yg ada?
Aku perih!! Bisa2x bersenang2 sendiri di atas kesulitan bersama!!
Kok bisa ??? Ya, pertanyaan itulah yg akhirx ada... Di manakah mata hati yg seharusx melihat?
Ini memang sudah terjadi, nasi sudah jadi bubur.tapi akan berulang berapa kali lagi? karena ini bukanlah yg pertama... Tak takutkah jatuh pada kemubaziran ??
Akhirnya, Terkadang aku merasa begitu sendiri, memperjuangkan berbagai hal, dan menjalani bagian2 hidup, sendiri, sepi. Padahal aku sesungguhnya tak sendiri...
Terkadang aku merasa begitu terhempas, terpuruk, terhinakan, terluka, pedih, sakit...
Tapi harus bagaimana lagi ?
Ya, tak mudah, memang !! Perjuangan, bagiku !!
Sabtu, 28 Agustus 2010
Jumat, 13 Agustus 2010
Renungan... Bocah Misterius
Renungan...
Bocah Misterius
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sud...ah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda denganberjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. "Bismillah..." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu..
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.
"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.."
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. "Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinanpada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?" Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan...,jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak...."
Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
Posted by Syarifah SaidSee More
By: Syarifah Said
Bocah Misterius
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sud...ah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda denganberjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. "Bismillah..." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu..
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.
"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.."
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. "Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinanpada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?" Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan...,jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak...."
Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
Posted by Syarifah SaidSee More
By: Syarifah Said
Kamis, 12 Agustus 2010
Ya Allah,
aku mohon iman yg sempurna,
keyakinan yg benar, r
rezeki halal & barakah,
hati yg khusuk,
bibir yg berzikir & terjaga,
makanan yg halal,
berikanlah kesempatan taubatan nasuha,
aamiin
aku mohon iman yg sempurna,
keyakinan yg benar, r
rezeki halal & barakah,
hati yg khusuk,
bibir yg berzikir & terjaga,
makanan yg halal,
berikanlah kesempatan taubatan nasuha,
aamiin
Selasa, 20 Juli 2010
ANTARA MIMPI, CITA-CITA DAN TEKAD
Suatu saat nanti, aku ingin, bisa ber-tafakkur alam, keliling dunia, mengunjungi berbagai tempat, menyaksikan berbagai kebesaran dan ciptaan-Nya, dengan biayaku sendiri atau hibah untukku... tanpa adanya berbagai macam birokraasi, atau pun euweuh pakeuweuh,yg membuatku hrs bertanggung jwb thp rakyat yg telah membiayai perjalananku...
Suatu saat nanti, aku ingin bs berjalan2, bertafakkur bersama keluargaku, tanpa harus meninggalkan anak2ku, k berbagai tempat, dgn dana yg tdk hrs dpertanggungjwbkan thp rakyat banyak..
Suatu saat nanti, aku ingin bebas, tak lagi menjadi 'pesuruh', yg hidupnya bergantung dan ditakar oleh orang lain..
Suatu saat nanti, aku ingin merdeka, merdeka sikap, hati, dan fikiranku...
Tak lagi dikekang oleh aturan yang cenderung menjadi thaghut...
Suatu saat nanti, aku ingin menjadi tangan yang senantiasa bisa di atas ketika berhubungan dengan makhlu2-NYA.. menjadi yg memberi, bukan yg menerima..
Ya, suatu saat nanti, aku ingin berhenti dari keterkekangan ini..
keterkekangan yg kdg jg menyimpan berbagai keraguan tentang ke'absahan' dlm berbagai hal..
Kalaulah pada akhirnya aku berhenti dari rutinitasku selama ini, sebagai 'pesuruh', itu berarti, aku yakin, bahwa di luar sana, aku bisa jd lebih baik, lebih bisa mencapai apa2 yg kucita-citakan, secara maximal..
Dan aku sudah bisa menjaminkan kehidupan yang lebih baik dr yg mgkn bs kudapatkan ketika aku berprofesi sebagai 'pesuruh' ini, INSYAAALLAH... !!
Ya, suatu saat nanti, InsyaaAllah...Ridhoilah Ya ALLAH..
Kabulkanlah Ya ALLAH..
AMIII...NNN..!!!
Suatu saat nanti, aku ingin bs berjalan2, bertafakkur bersama keluargaku, tanpa harus meninggalkan anak2ku, k berbagai tempat, dgn dana yg tdk hrs dpertanggungjwbkan thp rakyat banyak..
Suatu saat nanti, aku ingin bebas, tak lagi menjadi 'pesuruh', yg hidupnya bergantung dan ditakar oleh orang lain..
Suatu saat nanti, aku ingin merdeka, merdeka sikap, hati, dan fikiranku...
Tak lagi dikekang oleh aturan yang cenderung menjadi thaghut...
Suatu saat nanti, aku ingin menjadi tangan yang senantiasa bisa di atas ketika berhubungan dengan makhlu2-NYA.. menjadi yg memberi, bukan yg menerima..
Ya, suatu saat nanti, aku ingin berhenti dari keterkekangan ini..
keterkekangan yg kdg jg menyimpan berbagai keraguan tentang ke'absahan' dlm berbagai hal..
Kalaulah pada akhirnya aku berhenti dari rutinitasku selama ini, sebagai 'pesuruh', itu berarti, aku yakin, bahwa di luar sana, aku bisa jd lebih baik, lebih bisa mencapai apa2 yg kucita-citakan, secara maximal..
Dan aku sudah bisa menjaminkan kehidupan yang lebih baik dr yg mgkn bs kudapatkan ketika aku berprofesi sebagai 'pesuruh' ini, INSYAAALLAH... !!
Ya, suatu saat nanti, InsyaaAllah...Ridhoilah Ya ALLAH..
Kabulkanlah Ya ALLAH..
AMIII...NNN..!!!
Rabu, 03 Maret 2010
JANGAN BERSEDIH
Setiap orang menginginkan berhasil dalam setiap usahanya. Sekuat tenaga orang akan menghindari kegagalan. Namun sayangnya keberhasilan dan kegagalan adalah dua kata yang sangat dekat dan berhubungan.
.."Jangan menangisi sesuatu yang sudah hilang, jangan menangisi sesuatu yang lepas dari tangan. Namun menangislah apabila iman telah hilang dari hati, karena berarti telah hilang sumber kebahagiaan...."
Saudaraku, mungkin saat ini engkau sedang merasakan hidup terasa membosankan dan sempit, sesungguhnya kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Di hadapanmu masih terdapat jalan keluar yang jelas, pertolongan ALLAH yang sangat dekat, adanya kesenangan sesudah kesusahan, dan kemudahan sesudah kesulitan. Apabila Anda terkena musibah, ingatlah bahwa sesungguhnya masih ada yang lebih berat daripada musibah yang menimpa Anda. Dengan selalu menyadari hal itu Anda akan merasakan musibah yang dialami menjadi ringan.
Di depanmu masih terbuka kesempatan, masih ada harapan yang cerah dan masa depan yang gemilang. Sesungguhnya kesempitan yang Anda alami pasti ada jalan keluarnya.
Bila Engkau merasa semua jalan menjadi buntu, mungkin Engkau belum menggunakan akalmu dengan maksimal. Tidak ada dalam kehidupan ini jalan buntu selain kematian. Selama Engkau masih bernafas dan jantungmu masih berdetak, selama itu pula jalan keluar selalu ada.
Sesungguhnya kesulitan itu betapa pun besar dan lama, tidak akan abadi. Bahkan semakin kuat, semakin besar, semakin lama, dan semakin gelap kesulitan itu, akan semakin dekat dan terang datangnya kemudahan dan jalan keluar menuju kemakmuran dan kesenangan. Pasti datang pertolongan ALLAH saat kesulitan dan ujian mencapai titik puncaknya. Bukankah akhir dari kegelapan malam adalah munculnya sinar matahari di pagi hari... ??
(Disadur dari Buku : Agar Selalu Ditolong ALLAH, karya Hendra Setiawan, PenerbitJABAL, 2008)
By : Leni Sudiarti
http://iniblognyaleni.blogspot.com
.."Jangan menangisi sesuatu yang sudah hilang, jangan menangisi sesuatu yang lepas dari tangan. Namun menangislah apabila iman telah hilang dari hati, karena berarti telah hilang sumber kebahagiaan...."
Saudaraku, mungkin saat ini engkau sedang merasakan hidup terasa membosankan dan sempit, sesungguhnya kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Di hadapanmu masih terdapat jalan keluar yang jelas, pertolongan ALLAH yang sangat dekat, adanya kesenangan sesudah kesusahan, dan kemudahan sesudah kesulitan. Apabila Anda terkena musibah, ingatlah bahwa sesungguhnya masih ada yang lebih berat daripada musibah yang menimpa Anda. Dengan selalu menyadari hal itu Anda akan merasakan musibah yang dialami menjadi ringan.
Di depanmu masih terbuka kesempatan, masih ada harapan yang cerah dan masa depan yang gemilang. Sesungguhnya kesempitan yang Anda alami pasti ada jalan keluarnya.
Bila Engkau merasa semua jalan menjadi buntu, mungkin Engkau belum menggunakan akalmu dengan maksimal. Tidak ada dalam kehidupan ini jalan buntu selain kematian. Selama Engkau masih bernafas dan jantungmu masih berdetak, selama itu pula jalan keluar selalu ada.
Sesungguhnya kesulitan itu betapa pun besar dan lama, tidak akan abadi. Bahkan semakin kuat, semakin besar, semakin lama, dan semakin gelap kesulitan itu, akan semakin dekat dan terang datangnya kemudahan dan jalan keluar menuju kemakmuran dan kesenangan. Pasti datang pertolongan ALLAH saat kesulitan dan ujian mencapai titik puncaknya. Bukankah akhir dari kegelapan malam adalah munculnya sinar matahari di pagi hari... ??
(Disadur dari Buku : Agar Selalu Ditolong ALLAH, karya Hendra Setiawan, PenerbitJABAL, 2008)
By : Leni Sudiarti
http://iniblognyaleni.blogspot.com
Minggu, 21 Februari 2010
Maafkan Bunda, Nak...
Nanda, maafkan bunda..
Bunda hanyalah manusia biasa, yang penuh dengan kealfaan, kekurangan..
Bunda hanya manusia kerdil yang tak luput dari keluh kesah dan emosi..
hanya manusia biasa yang belum ahli me-manage gejolak hati ..
Nanda, maafkan Bunda, kalau pada akhirnya engkau tak luput dari lampiasan amarah Bunda
yang tak jarang juga berakibat pada hukuman fisik
atau... (hanya lampiasan emosi??)
Maafkan Bunda, kalau Bunda tak pandai menyusun kata-kata yang halus dan begitu santun paddamu
maafkan Bunda kalau bahasa fisik yang kadang jadi wujud ekspresi kekesalan dan kecewa Bunda..
Nanda, maafkan Bunda, kalau Bunda menuntut padamu terlalu banyak
menuntut apa-apa yang mungkin belum bisa engkau lakukan
menuntut berbagai pengertianmu
di usiamu yang masih begitu dini..
Nanda, maafkan Bunda,
kalau dengan sangat terpaksa Bunda harus membagi perhatian dengan adikmu
di saat engkau mungkin masih begitu perlu mendapatkan perhatian penuh dari Bunda..
Maafkan Bunda, Nak...
Sedih, penyesalan dan berbagai perasaan lainnya yang pada akhirnya muncul
setelah memberimu hukuman (atau luapan amarah) terhadap fisikmu yang masih mungil...
maafkan Bunda, Nak..
tak jarang, Bunda bahkan tak mampu menahan derai air mata ini
menyesali apa yg telah Bunda lakukan terhadapmu..
Maafkan Bunda, Nak...
entah bagaimana Bunda ini di matamu..
kejam, barangkali..
Tapi sungguh,Nak.. Bunda ingin bersikap lunak dan lembut terhadap kalian...
tapi kadang keadaan membuat Bunda sulit mengontrol diri dan emosi...
terlebih setelah kepenatan dan kejenuhan melanda diri dan jiwa Bunda...
Maafkan Bunda, Nak...
Maafkan...
Bunda hanya manusia biasa yang belum lagi ahli dalam mengontrol diri dan emosi...
Janganlah simpan dendam dirimu terhadap Bunda
karena... membayangkan itu saja, Bunda ngeri...
tidak, Nak.. jangan..
Semoga engkau mau memaafkan Bunda, dan menjadi anak yang shaleh dan penuh pengertian...
Maafkan Bunda, Nak... !!!
(Biarlah tetesan demi tetesan air mata Bunda, menjadi saksi akan penyesalan Bunda, karena tak lihai dalam mendidik kalian dengan cara yang santun dan haniif.. !!)
Bunda hanyalah manusia biasa, yang penuh dengan kealfaan, kekurangan..
Bunda hanya manusia kerdil yang tak luput dari keluh kesah dan emosi..
hanya manusia biasa yang belum ahli me-manage gejolak hati ..
Nanda, maafkan Bunda, kalau pada akhirnya engkau tak luput dari lampiasan amarah Bunda
yang tak jarang juga berakibat pada hukuman fisik
atau... (hanya lampiasan emosi??)
Maafkan Bunda, kalau Bunda tak pandai menyusun kata-kata yang halus dan begitu santun paddamu
maafkan Bunda kalau bahasa fisik yang kadang jadi wujud ekspresi kekesalan dan kecewa Bunda..
Nanda, maafkan Bunda, kalau Bunda menuntut padamu terlalu banyak
menuntut apa-apa yang mungkin belum bisa engkau lakukan
menuntut berbagai pengertianmu
di usiamu yang masih begitu dini..
Nanda, maafkan Bunda,
kalau dengan sangat terpaksa Bunda harus membagi perhatian dengan adikmu
di saat engkau mungkin masih begitu perlu mendapatkan perhatian penuh dari Bunda..
Maafkan Bunda, Nak...
Sedih, penyesalan dan berbagai perasaan lainnya yang pada akhirnya muncul
setelah memberimu hukuman (atau luapan amarah) terhadap fisikmu yang masih mungil...
maafkan Bunda, Nak..
tak jarang, Bunda bahkan tak mampu menahan derai air mata ini
menyesali apa yg telah Bunda lakukan terhadapmu..
Maafkan Bunda, Nak...
entah bagaimana Bunda ini di matamu..
kejam, barangkali..
Tapi sungguh,Nak.. Bunda ingin bersikap lunak dan lembut terhadap kalian...
tapi kadang keadaan membuat Bunda sulit mengontrol diri dan emosi...
terlebih setelah kepenatan dan kejenuhan melanda diri dan jiwa Bunda...
Maafkan Bunda, Nak...
Maafkan...
Bunda hanya manusia biasa yang belum lagi ahli dalam mengontrol diri dan emosi...
Janganlah simpan dendam dirimu terhadap Bunda
karena... membayangkan itu saja, Bunda ngeri...
tidak, Nak.. jangan..
Semoga engkau mau memaafkan Bunda, dan menjadi anak yang shaleh dan penuh pengertian...
Maafkan Bunda, Nak... !!!
(Biarlah tetesan demi tetesan air mata Bunda, menjadi saksi akan penyesalan Bunda, karena tak lihai dalam mendidik kalian dengan cara yang santun dan haniif.. !!)
Langganan:
Postingan (Atom)
